Info Terbaru

-- Belum Ada Data --

Kalender Kegiatan

OPERATOR KAPAL HARUS MENUNJUK REGULASI AGENT UNTUK MEMERIKSA MUATAN

10 Juli 2017 12:45:25   |

Pada Monitoring Keselamatan Angkutan Lebaran tanggal 16 Juni 2017, Wakil Ketua (Waka) KNKT Haryo Satmiko menunjukkan keprihatinannya yang mendalam terkait dengan banyaknya terbakarnya kapal penyebrangan yang diduga kuat berasal dari muatan kendaraan. Hal ini diperkuat dari kurangnya pengaturan dari pemerintah terkait pengawasan isi muatan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di kapal terhadap keselamatan pelayaran. “Faktor yang paling lemah kebakaran kapal penyebrangan terdapat pada muatannya” tegas Waka KNKT.

Pada kesempatan yang sama, Waka KNKT menjelaskan bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan 2016 terdapat 13 kasus kapal penyebrangan yang terbakar dimana 80% disebabkan oleh muatan kapal tidak terkecuali angkutan B3. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah pengangkut B3 harus memberi informasi kepada operator kapal.

Selanjutnya, “Operator kapal harus menunjuk Regulasi Agent untuk memeriksa muatan” ungkap Waka KNKT ketika memberikan penjelasan tentang fungsi Regulasi Agent sebagai pengawas muatan kapal yang bersertifikat dari Kementerian Perhubungan. Kasi Operasional Otoritas Pelabuhan Penyebrangan (OPP) Merak-Bakaheuni Sudjendro mengakui bahwa pihak operator kapal tidak pernah diberitahu apabila terdapat muatan B3.

Selain menekankan pada pemeriksaan muatan B3 pada kapal penyebrangan, Waka KNKT juga menyinggung terkait penerapan lashing pada setiap kendaraan yang berada di kapal. “Sampai dengan saat ini kewajiban pemakaian lashing hanya ditujukan pada operator kapal sedangkan pemilik kendaraan tidak” ungkap waka KNKT. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya tempat  lashing yang terdapat pada kendaraan. Pada sisi lain terdapat keterbatasan waktu yang diberikan kepada operator kapal untuk melakukan bongkar muat. Apabila semua hal ini dapat dipenuhi diharapkan proses lashing dapat lebih mudah dan cepat.

Sebelum menjelaskan pemeriksaan muatan angkutan B3 dan kewajiban pemakaian lashing bagi pemilik kendaraan, Waka KNKT menjelaskan faktor yang paling besar pada kecelakaan pelayaran. “faktor sarana sebesar 48%, Faktor manusia sebesar 40% dan sisanya adalah faktor manajemen, lingkungan dan prasarana” Ungkap Waka KNKT.

Disamping itu Waka KNKT menyatakan bahwa faktor teknis penyebab kecelakaan kapal adalah kurangnya perawatan kondisi dan mesin kapal yang telah berumur lebih dari 10 tahun sedangkan pada faktor manusia disebabkan perbedaan pemahaman dalam pemeriksaan diantara Marine Inspektur (MI). Pemeriksaan suatu kapal memerlukan multidisiplin ilmu sehingga tidak hanya dibebankan pada satu MI saja.

Pada faktor manusi yang terakhir terdapat pada kedisiplinan melakukan pengawasan operasional kapal seperti waktu pemeriksaan penumpang sebelum diterbitkan Surat Perintah Berlayar (SPB). Sebelum mengakhiri kegiatan ini Waka KNKT memberikan pesan kepada OPP untuk dapat berintervensi terkait keselamatan pelayaran dan tidak hanya dibebankan pada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Arsip

Webmail

Tautan